Pemprov Kaltara Dorong Ekonomi dan Konservasi Mangrove di Sekatak Buji Melalui FP VI
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 68
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pelaksanaan program pengelolaan dan pelestarian ekosistem mangrove melalui Forest Programme di Desa Sekatak Buji dipimpin M. Khairul Rizal. (BORNEO TERKINI/Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALTARA | BORNEO TERKINI – Masyarakat Desa Sekatak Buji, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, ditempatkan sebagai aktor utama dalam pengelolaan dan pelestarian ekosistem mangrove melalui Forest Programme (FP) VI. Program ini digulirkan untuk menyelaraskan konservasi lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan ekonomi warga secara berkelanjutan. Hal ini diungkapkan oleh Deputy Chief Technical Advisor (DCTA) FP VI, M. Khairul Rizal, saat pelaksanaan program di Desa Sekatak Buji, Kamis (30/7/26).
“FP VI dirancang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pelestarian mangrove harus berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi warga melalui pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab,” ujar Khairul Rizal.
Dalam pelaksanaannya, program ini menerapkan pendekatan Free, Prior and Informed Consent (FPIC/PADIATAPA) dan Participatory Land Use Planning (PLUP). Pendekatan tersebut memberikan ruang penuh bagi masyarakat untuk menentukan arah pengelolaan wilayah berdasarkan adat, budaya, dan pengetahuan lokal.
Selain fokus pada konservasi dan rehabilitasi, FP VI juga menghadirkan sejumlah program pemberdayaan strategis. Di antaranya meliputi pelatihan ekonomi produktif, penguatan kelompok usaha berbasis mangrove, serta penguatan kelembagaan desa.
Khairul Rizal mencontohkan, pengembangan usaha ekonomi masyarakat harus bertumpu pada potensi riil desa, seperti sektor budidaya udang. Dengan membaiknya ekosistem mangrove, populasi udang diharapkan meningkat sehingga kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari produksi lokal tanpa mendatangkan dari luar daerah.
Sementara itu, dalam aspek tata kelola, program ini memperkuat peran Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai mitra utama, sementara masyarakat bertindak sebagai pelaksana lapangan. Sinergi ini juga diwujudkan melalui pembentukan regulasi desa, patroli mangrove berbasis masyarakat, serta sinkronisasi pembangunan desa dengan pemerintah daerah.
Khairul Rizal menegaskan, seluruh pelaksanaan kegiatan dan penggunaan anggaran dilakukan secara transparan dan akuntabel sesuai standar yang berlaku agar tepat sasaran serta memberikan manfaat nyata bagi warga Desa Sekatak Buji.
Sebagai informasi, Forest Programme VI didanai melalui hibah senilai 20 juta Euro. Program ini merupakan bentuk kerja sama internasional antara lembaga donor KfW, Kementerian Keuangan RI selaku penerima hibah, dan Kementerian Kehutanan RI sebagai executing agency.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, Desa Sekatak Buji diproyeksikan menjadi model percontohan nasional dalam pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan yang mengedepankan partisipasi aktif masyarakat dan kearifan lokal.
- Penulis: (/rfy/ dkisp- ADV/)
- Editor: (/red/)








Saat ini belum ada komentar