Pemerintah Jamin Cadangan BBM Aman di Tengah Penutupan Selat Hormuz
- account_circle (/*red/)
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

Antrean panjang di sejumlah SPBU akibat panic buying masyarakat. Dipicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan BBM setelah adanya laporan penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. BORNEO TERKINI/Foto red*
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PT Pertamina (Persero) telah mengambil langkah konkret untuk menjamin pasokan. Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menyatakan bahwa perseroan telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus yang akan beroperasi 24 jam hingga 1 April 2026, guna mengantisipasi lonjakan permintaan menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Selain itu, Pertamina juga mengoptimalkan produksi dari enam kilang yang tersebar dari Sumatera hingga Papua, yang mampu memenuhi 70% kebutuhan BBM nasional dari produksi dalam negeri, bahkan 100% untuk pasokan avtur dan Solar. Kapasitas produksi kilang saat ini mencapai 1,05 juta barel per hari dan diharapkan meningkat menjadi 1,4 juta barel per hari seiring dengan penyelesaian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.
Dalam hal harga, BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamina Dex telah mengalami penyesuaian harga sejak 1 Maret 2026, dengan Pertamax berada di kisaran Rp 12.300 – Rp 12.900 per liter tergantung wilayah, dan Pertamina Dex naik menjadi Rp 14.500 per liter. Namun, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Bio Solar masih dipertahankan pada level Rp 10.000 per liter. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjamin bahwa dinamika harga minyak dunia belum berdampak pada kebijakan subsidi energi dalam negeri, meskipun mengakui bahwa kondisi geopolitik yang memanas berpotensi menyebabkan koreksi harga di masa depan.
Para ahli menyampaikan pandangan terkait potensi dampak jangka panjang. Peneliti Next Policy, Shofie Az Zahrah, menekankan bahwa jika harga minyak dunia terus melonjak, selisih antara harga pokok dan harga jual BBM subsidi akan semakin besar, yang berpotensi membengkakkan anggaran subsidi APBN.
Sementara itu, pengamat energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memprediksi harga minyak dunia dapat mencapai USD 145 per barel jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, meskipun OPEC+ telah sepakat untuk meningkatkan produksi guna meredam gejolak harga sejak 1 Maret 2026.
Dengan berbagai langkah antisipasi yang telah dilakukan, pemerintah optimistis bahwa pasokan BBM nasional akan tetap stabil dan terjamin ketersediaannya, meskipun menghadapi tantangan dari gejolak pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah.
- Penulis: (/*red/)

Saat ini belum ada komentar