Sekolah Jadi Garda Depan, MUI Berau Perkuat Moderasi Beragama Lewat Guru
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 189
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kegiatan Sarasehan Dari Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Kab. Berau. (BORNEO TERKINI/Foto Sam)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BERAU — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Berau memperkuat penanaman nilai moderasi beragama di lingkungan pendidikan. Langkah strategis ini ditempuh dengan membekali puluhan tenaga pendidik untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin di sekolah.
Sebanyak 69 guru yang terdiri atas pengajar Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Pancasila, serta Bimbingan dan Konseling (BK) tingkat SMA dan SMK se-Kabupaten Berau mengikuti sarasehan intensif di Aula SMAN 1 Berau, baru-baru ini.
Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI Berau, Mastur Jafri, mengatakan para guru memegang posisi kunci dalam membentuk karakter peserta didik agar memiliki cara pandang yang inklusif dan menghargai keragaman.
“Guru berada di garis depan dalam memberikan pemahaman yang benar tentang kerukunan dan toleransi beragama kepada peserta didik,” ujar Mastur.
Ia menambahkan, program pembinaan ini dirancang agar tidak berhenti pada satu pertemuan semata. Jika evaluasi menunjukkan respons dan hasil yang positif, program serupa akan dilanjutkan secara berkelanjutan dengan cakupan yang lebih luas pada tahun mendatang.
Sementara itu, Ketua Umum MUI Kabupaten Berau, Syarifuddin Israil, menegaskan bahwa lembaganya terbuka bagi seluruh elemen masyarakat lintas profesi, bukan sekadar wadah bagi pemuka agama. Keberagaman latar belakang tersebut sengaja dihimpun untuk bersama-sama merumuskan solusi atas berbagai persoalan umat, termasuk dalam menjaga keharmonisan sosial.
“MUI bertugas menjaga persatuan, memperkuat kerukunan umat beragama, serta memberikan pemahaman keagamaan yang lurus kepada masyarakat,” tuturnya.
Dalam sesi inti, peserta mendapatkan pembekalan materi dari dua narasumber, yakni Mastur Jafri dan Ahmadonhy. Melalui kolaborasi lintas bidang, di mana guru PAI memperkuat pemahaman keagamaan moderat, guru Pancasila mengokohkan wawasan kebangsaan, dan guru BK mendampingi perilaku sosial, sekolah diharapkan mampu bertransformasi menjadi ruang aman yang terhindar dari potensi intoleransi maupun diskriminasi.





- Penulis: (/Sam/)
- Editor: (/Red/)





Saat ini belum ada komentar