Dorong Transformasi Desa Mandiri, Edward Candra Tekankan Sinergi Lintas Sektor
- account_circle (/hmd/)
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 22
- comment 0 komentar
- print Cetak

Rapat Koordinasi Teknis Perencanaan Pembangunan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2026. BORNEO TERKINI/Foto Ahmad Safe'i
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PALEMBANG | BORNOE TERKINI – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), H. Edward Candra, secara resmi membuka Rapat Koordinasi Teknis Perencanaan Pembangunan (Rakortekrenbang) untuk urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Senin (27/04/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Edward Candra menyampaikan bahwa saat ini Sumsel memiliki 2.853 desa. Dari jumlah tersebut, sekitar 18,9 persen telah masuk kategori desa mandiri. Namun, capaian ini dinilai masih perlu ditingkatkan agar semakin banyak desa yang bertransformasi menuju kemandirian.
“Desa saat ini menjadi ujung tombak program Gubernur dalam membangun daerah. Kami berharap desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga menjadi pusat implementasi program pemerintah sekaligus wadah penyerapan aspirasi masyarakat,” ujar Edward Candra.
Menurutnya, urusan pemerintahan desa membutuhkan koordinasi teknis berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang menekankan pentingnya penciptaan lapangan kerja di desa.
“Desa harus mampu membuka lapangan pekerjaan, bukan justru menjadi tempat yang ditinggalkan. Diperlukan inovasi agar program yang dijalankan mampu menyerap sumber daya manusia di desa,” tegasnya.
Edward juga menyoroti keterkaitan pembangunan desa dengan isu strategis lainnya, yaitu penurunan angka stunting dan pengendalian inflasi. Saat ini, angka stunting di Sumsel tercatat sebesar 12,9 persen dan terus diupayakan penurunannya melalui berbagai program, seperti pelayanan Posyandu dan Program Makan Bergizi Gratis.
Sementara itu, dalam pengendalian inflasi, peran Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) terus digencarkan. Program ini mendorong ketahanan pangan di tingkat desa, termasuk pengelolaan komoditas strategis seperti cabai yang kerap menjadi penyumbang inflasi.
- Penulis: (/hmd/)
- Editor: (/ski */)



Saat ini belum ada komentar